Teknik Penulisan Deskriptif tentang Lingkungan dalam Dunia Jurnalistik


Menurut Harry Surjadi, mantan jurnalis Koran KOMPAS, tulisan yang bagus adalah tulisan yang dapat menggerakkan pembaca. Agar pembaca dapat tergerak dengan apa yang telah diuraikan dalam bacaan, maka tulisan tersebut harus dapat memancing emosi para pembaca. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari manusia bergerak berdasarkan logika maupun emosi.

Tulisan deskriptif adalah tulisan yang dapat menggambarkan hasil observasi dari seluruh panca indra yang kita miliki tanpa berasumsi, sehingga pembaca yang membaca tulisan tersebut seakan-akan merasakan apa yang ditulis oleh penulis. Tujuan dari penulisan deskriptif adalah untuk membangkitkan emosi pembaca agar dapat merasakan apa yang penulis rasakan. Ada tiga tahapan yang harus dilakukan dalam penulisan deskriptiif mengenai lingkungan, yaitu observasi, research, dan mendeskripsikan.

Dalam penulisan deskriptif mengenai lingkungan, observasi dan research merupakan langkah yang harus dilakukan penulis sebelum melakukan pendeskripsian. Hal ini dikarenakan, penulis hanya dapat menulis dengan jujur dan memiliki keaslian jika dia terjun langsung ke lapangan. Dalam konteks ini, tidak mungkin seorang penulis mendeskripsikan tentang hutan jika dia belum pernah pergi ke hutan. Research yang dilakukan dapat berupa arsip research atau referensi dan living research sebelum kita melakukan observasi. Arsip research membantu memformulasikan pertanyaan dengan tepat. Selain itu, referensi atau arsip juga dapat digunakan sebagai data tambahan dalam penulisan deskriptif.

Tujuan dari melakukan observasi dalam penulisan deskriptif adalah untuk membantu penulis untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan, bukan apa yang penulis pikirkan. Hal ini berkaitan dengan keaslian tulisan dalam mendeskripsikan suatu lingkungan. Dalam melakukan observasi, penulis haruslah jujur dan memiliki kesabaran, keaslian, dan niat yang kuat. Kesabaran dan niat yang kuat haruslah dimiliki oleh seorang penulis yang ingin mendeskripsikan mengenai lingkungan. Hal ini dikarenakan, observasi membutuhkan waktu yang tidak singkat, misalnya jika penulis ingin mendeskripsikan keadaan puncak suatu  gunung, maka akan dibutuhkan waktu dan tekad yang kuat untuk sampai di tempat observasi. Yang perlu diingat dalam melakukan observasi adalah penulis harus melakukannya dengan sadar dan sengaja. Artinya, seluruh panca indra  haruslah digunakan untuk mengobservasi keadaan sekitar, baik mata, telinga, kulit, maupun hidung.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penulis dalam melakukan observasi yaitu penulis tidak boleh berasumsi terhadap apa yang dilihatnya. Misalnya, jika ada sebuah cangkir yang berisi air berwarna hitam, maka kita tidak boleh langsung menerka apa air yang ada dalam cangkir tersebut. Penulis harus bertanya kepada orang yang mengisi air ke dalam cangkir tersebut dan penulis pun harus mengujinya. Selain tidak boleh berasumsi, kita juga tidak boleh menyeleksi apa yang ada dilingkungan berdasarkan kepentingan. Hal ini akan menyebabkan penulis tidak mengingat secara detail keadaan lingkungan, karena cenderung akan mengingat apa yang dianggapnya penting. Dalam diskusi singkat ini, Harry Surjadi mengatakan bahwa, sebaiknya seorang penulis memiliki prinsip “Seeing is believing”. Maksudnya adalah seorang jurnalis janganlah langsung percaya terhadap suatu kejadian ataupun tempat jika belum melihatnya secara langsung. Hal ini berkaitan dengan kemurnian, keaslian, dan kejujuran tulisan.

Setelah proses observasi selesai, saatnya penulis melakukan pendeskripsian apa yang telah dia rasakan dengan bantuan seluruh panca indranya. Dalam proses pendeskripsian ini, penulis harus membuat pembaca seakan-akan berada di tempat yang dideskripsikan. Yang perlu diingat dalam penulisan deskripsi adalah jika penulis tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan kata-kata, maka penulis bisa bermetafora (mencari metaforanya). Dengan bermetafora, maka akan memudahkan pembaca untuk menduga apa yang ingin disampaikan penulis.

Ada tiga prinsip dalam menulis deskriptif, yaitu Clear dominan impression, Detail objektif, dan Detail subjektif. Clear dominan impression (kesan dominan yang jelas) yaitu penulis harus menentukan kesan yang paling dominan terhadap objek yang akan dia deskripsikan. Misalnya penulis melihat kucing yang akan berkelahi. Dari kasus ini, kita dapat mengambil kesan dominan untuk mendeskripsikan kucing yang akan berkelahi, seperti bagaimana perubahan pada bulu, rambut, atau pun ekornya. Karena penulis telah memilih kucing saat mau berkelahi sebagai kesan dominan, maka pendeskripsian yang penulis tuliskan harus dapat menggambarkan bagaimana keadaan saat kucing hendak berkelahi. Yang terpenting adalah pembaca memiliki gambaran yang sama dengan apa yang telah ditulis oleh penulis.

Selain kesan dominan, detail objektif dan detail subjektif juga perlu diperhatikan dalam penulisan deskriptif. Detail subjektif berkaitan engan perasaan penulis terhadap suatu yang dilihat, didengar, atau pun dirasakannya. Namun, jika detail objektif tidak sesuai dengan detail subjektif, maka pembaca akan menjadi tidak percaya dengan apa yang telah ditulis oleh penulis, karena tulisan tersebut sangat bersifat subjektif tanpa mempertimbangkan nilai objektifitasnya. Oleh karena itu, detail objektif sangatlah mendukung detail subjektif. Dalam penulisan deskriptif, penulis boleh memasukkan detail subjektif, namun penulis juga harus menyertakan detail objektifnya agar pembaca dapat mengetahui kenapa penulis memiliki detail subjektif yang dituliskan dalam tulisan tersebut. Detail yang akan dideskripsikan harus sesuai dengan dominan impression. Jadi, tidak semua detail harus kita masukkan dalam mendeskripsikan sesuatu. Jika detail yang dituliskan tidak sesuai dengan kesan dominannya, maka akan menimbulkan kerancuan bagi para pembaca.

Selain clear dominan impression, detail objektif, dan detail subjektif, dalam menuliskan tulisan deskriptif, penulis juga harus menulisnya sesuai urutan ruang dan waktu. Pengurutan ruang ini pun bertujuan agar tidak menimbulkan kerancuan bagi para pembaca.

Jadi, tulisan deskriptif bertujuan untuk membangkitkan emosi pembaca, sehingga dapat membayangkan apa yang digambarkan penulis dalam tulisannya. Dalam penulisan deskriptif, perlu adanya observasi dan research untuk menjaga keaslian dan kejujuran tulisan.

Jakarta, 21 April 2010