Three Cups of Tea – Melawan Konflik Peperangan dengan Pendidikan


“…di Pakistan dan Afganistan, kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis, pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun, bahkan untuk mati.”

Haji Ali, Nurmadhar (Pemimpin) Desa Korphe.

Inilah kisah inspiratif tentang perjuangan kemanusiaan yang sangat mengharukan di “pekarangan belakang” daerah lahirnyaTaliban.

Three Cups of Tea menceritakan mengenai pemenuhan janji Greg Mortenson, seorang pendaki asal Amerika, kepada suku Balti yang mendiami Desa Korphe, desa yang bahkan tak pernah dilihatnya di peta.

Dalam buku ini, keindahan dan kemegahan puncak kedua Himalaya, puncak Karakoram, disajikan secara detail dari atas helikopter. Kisah ini diawali dengan pendakian Greg ke puncak Karakoram, puncak kedua Himalaya. Dalam pendakian menuju puncak Karakoram, Greg tidak hanya mengalami kegagalan, tetapi ia juga tersesat dan mengalami keletihan yang kronis. Setelah berjalan tertatih-tatih, akhinya dia tiba di Desa Korphe. Di sana, ia diterima baik oleh Haji Ali, sang nurmadhar (pemimpin).

Kenyataan bahwa Desa Korphe tidak memiliki sekolah dan pemerintah Pakistan tidak menyediakan guru untuk mereka membuat tenggorokan Greg tercekat. Keinginannya untuk membalas budi baik mereka, membuat Greg berjanji kepada masyarakat Desa Korphe. Sebuah janji kepada desa nan miskin dan terpencil ini membuat kisah hidup Greg Mortenson dan anak-anak Desa Korphe berubah drastis. Janji apa yang Greg katakan kepada masyarakat Desa Korphe hingga kisah hidupnya berubah drastis?

Guna memenuhi janjinya, Greg pun kembali ke Amerika. Usaha pun dimulai dari menuliskan beratus surat kepada orang-orang yang peduli kepada pendidikan, hingga akhirnya Jean Hoerni, Direktur Institut Asia Tengah, bersedia menanggung biaya pembangunan sekolah di Korphe. Setelah pembangunan sekolah di Korphe, dalam satu dekade, akhirnya Greg pun membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah, terutama sekolah untuk anak-anak perempuan di daerah tempat lahirnya Taliban itu.

Pembangunan sekolah selama satu dekade di tempat terjadinya konflik tidaklah semudah yang dibayangkan, terlebih lagi setelah penyerangan terhadap Gedung Kembar WTC di New York, membuat dirinya yang seorang Amerika merasa tidak aman.

Dalam satu dekade pembangunan sekolah-sekolah, banyak kisah yang terjadi. Dia harus menerima kenyataan bahwa dia dipecat dari pekerjaannya, ditinggal oleh kekasihnya, tidur di mobil tuanya, tak memiliki uang, dan mendapat surat ancaman karena telah menolong Muslim. Lalu bagaimana usaha Greg untuk terus melakukan misinya ditengah masalah yang ia hadapi?

Keteguhan hati yang kuat untuk membantu Muslim di Pakistan Utara serta dukungan dari isteri tercinta membuatnya tetap mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak Pakistan Utara guna mendapatkan hak mereka dalam pendidikan.

Menurut saya, alur cerita yang disajikan agak lambat, namun dapat pengundang minat pembaca untuk mengetahui bagaimana kisah perjuangan kemanusian Greg dari tiap bab. Bab awal dari novel ini sedikit membosankan karena lebih banyak menjelaskan keadaan alam Puncak Karakoram dan ketangguhan puncak kedua Himalaya tersebut secara detail.

Kisah inspiratif ini memberitahukan kepada pembaca bahwa Greg melawan konflik peperangan melalui pendidikan. Karena dengan pendidikan yang benar, maka setiap manusia akan saling menghargai apa artinya perdamaian.

Sumber gambar: disini

***

Jenis : Nonfiksi

Penulis : Greg Mortenson dan David Oliver Relin

Penerbit : Mizan

 Jakarta, 21 Juli 2010