[BATAM FF RINDU] – Mentari di Padang Edelweis


“Kakak, tungguin aku.”

“Ayo, jalannya dipercepat.” Langkah kakak terhenti sambil mengamatiku yang berjalan mendekatinya.

“Ini juga udah jalan cepet. Kakak aja yang jalannya kecepetan,” ucapku sambil cemberut.

“Yaudah, sekarang kamu jalan di depan kakak biar nggak ketinggalan lagi.”

Satu jam kembali berlalu, padang eidelweis belum juga terlihat. Rasa capek, pegal, dan lelah bercampur aduk di dalam tubuhku. Jurang-jurang terjal, pepohonan, dan pohon tumbang adalah tontonanku selama perjalanan. Sesekali beristirahat menikmati segar dan dinginnya udara sekitar.

“Kak, kira-kira berapa lama lagi kita sampai?”

“Ya ampun Mentari, sudah belasan kali kamu tanyakan itu pada kakak. Bersabar dan teruslah berjalan. Nanti rasa lelahmu pasti akan terbayarkan.”

Aku menurut. Terus berjalan sambil mengamati sekitar dan tersadar bahwa pepohonan tinggi sudah mulai berkurang. Itu pertanda semakin dekat dengan puncak gunung.

“Nah, 10 menit lagi kita sampai nih.”

Kabut putih yang menyelimuti langkah kami semakin tebal. Kini aku berdiri di puncak gunung. Dari puncak gunung, aku dan kakak berjalan ke arah kiri, menuju padang eidelweis yang dipagari tebing tinggi. Pemandangan menakjubkan itu melunturkan semua rasa lelahku. Pohon Edelweis kini ada di depan mataku. Aku dapat menyentuhnya. Aku berjalan perlahan menuju ke tengah padang eidelweis sambil terus berdecak kagum.

“GDEBUKKKKKK….!!!!”

“AAAWWW. Aduh sakit.”

Saat tersadar, aku telah terjatuh dari kasur. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Aku bangkit. Di atas kasur kulihat beberapa foto tercecer. Foto-foto itu kulihat setiap kali aku merindukannya. Foto pertama sekaligus terakhir bersama kakak saat di Mandalawangi. Kenangan itu kusimpan dengan manis, karena tak pernah ada lagi kesempatan untuk pergi kesana bersamanya.

Jumlah kata 250
Diikutsertakan dalam lomba MPers Batam
Foto: dokumentasi teman.

Depok, 30 September 2011