Cermin Evaluasi


Agenda pertemuan lingkaran kami setiap akhir bulan adalah evaluasi mutabaah. Dalam majelis ilmu itu, kami bertukar cerita mengenai kondisi ruhiyah kami, kondisi keluarga, lingkungan kampus dan lingkungan kerja kami. Ternyata setelah satu bulan berlalu, banyak kisah yang penuh cobaan, mulai dari dalam diri sendiri, anggota keluarga, maupun lingkungan kerja. Dalam lingkaran itu, kami saling memberi masukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dari tiap saudara saya dalam lingkaran tersebut.

Majelis ilmu itu seperti charger bagi keimanan kita yang terkadang fluktuatif atau malah saat iman itu sedang berada dalam kondisi marginal. Dalam lingkaran halaqoh, akan ada pengingatan dan evaluasi. Pengingatan dalam kebaikan tentulah sangat penting. Bukankan kita memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan, karena manusia tidak ada yang sempurna.

Saya mengutip dari buku Dalam buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah yang pernah saya baca, “Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai, aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita. Hanya iman –iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil. Mungkin dua-duanya. Mungkin kau saja. Tentu lebih sering, imankulah yang compang camping.” Yah, mungkin ketika kita sulit menerima pengingatan baik dari saudara kita, maka iman kitalah yang harus kita pertanyakan. Mungkin iman kitalah yang sedang compang-camping. Untuk itu, perlulah kita untuk bercermin.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Oleh karena itu, saat kita menjadikan sesama mukmin sebagai cermin, maka jika kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati, maka kita harus tahu bahwa yang harus diperbaiki bukanlah sang bayangan, tapi diri kita yang sedang bercermin. Yah, bercermin disini bukanlah bercermin untuk takjub pada bayang-bayang diri kita, tapi untuk membenahi pribadi kita sang pemilik bayangan.

Saya kira, evaluasi diri adalah salah satu cara untuk mengetahui posisi keimanan kita. Karena dengan evaluasi, kita dapat melihat bayangan kita di cermin. Kita cermati, apakah ada yang tak terkenan atau adakah yang salah selama ini. Jangan sampai, kita menganggap iman saudara kita sedang mengkerdil, padahal nyatanya iman kita yang justru sedang terkoyak-koyak.

Semoga kita menjadi hamba Allah yang dapat terus memperbaiki diri agar keimanan kita tidak melulu berada pada posisi marginal, atau bahkan menurun hingga ke dasar. Saya teringat dengan ucapan murobbi saya, beliau mengingatkan agar selalu memperbaiki grafik keimanan dan mutabaah kami hingga apabila suatu saat dipertemukaan oleh seorang yang telah dituliskan sebagai jodoh kami sejak di Lauhul Mahfuhz, maka grafik kami sudah cukup stabil. Hal ini karena akan banyak tantangan lebih besar yang menanti setelah berkeluarga. Saya teringat dengan tweet Salim A. Fillah, “Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil dari jalan halal ataukah haram, dapatnya yang itu juga. Yang beda, rasa berkahnya.” Semoga saat kita dipertemukan dengan seseorang yang telah dituliskan sebagai jodoh kita, kita berada dalam keadaan yang baik. Jadi, sebenarnya usaha untuk selalu memperbaiki diri merupakan salah satu cara untuk mendapatkan seseorang yang baik pula.

Semoga evaluasi yang kita lakukan tidak hanya menjadi sebuah ritual yang sering terlupa untuk ditindaklanjuti guna melakukan perbaikan.

Sumber gambar: disini

Jakarta, 8 Maret 2011