Sepenuh Hati menjadi Seorang Muslimah


“Seorang anak gadis yang sayang dengan ayahnya pasti akan menutup aurat karena tidak mau ayahnya diseret ke neraka. Begitu juga wanita yang sayang dengan suaminya pasti akan menutup auratnya karena tidak mau suaminya juga diseret ke neraka.”

(dari status FB Wanita Solehah, tidak Memandang & tidak Dipandang)

Kakak mentorku berkata, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita akan berjilbab? Kita tidak tahu kapan kita akan mati. Apakah kita mau mati dalam keadaan kita belum melakukan kewajiban kita, yaitu menutup aurat?

Perkataan mentorku itu dibalas dengan semangat oleh teman sekelompokku yang seorang muallaf. Ia mengatakan dengan lantang bahwa ia akan mengenakan jilbab. Mendengar perkataannya, aku hanya mampu berkata dalam hati, ”Subhanallah, padahal dia baru masuk Islam, tapi dia sudah berniat untuk mengenakan jilbab.” Kenyataan tersebut telah mengiris-ngiris keimananku yang tak kunjung berniat untuk menutup aurat, padahal aku telah mengenal Islam sejak aku dilahirkan ke dunia.

Kata-kata mentorku terus bersarang dipikiran dan hatiku hingga aku tiba di rumah. Kakak-kakak perempuanku telah lebih dahulu menutup auratnya. Namun, hal itu karena mereka bersekolah di sekolah Islam. Mereka memakai jilbab jika hendak pergi keluar rumah saja. Aku yang dari kecil bersekolah di sekolah negeri, tak ada pikiran untuk memakai jilbab. Aku pun selalu merasa risih dan enggan memakai jilbab ke sekolah, meskipun pada hari itu sekolahku mengharuskan para siswanya yang muslim mengenakan jilbab pada hari Jumat. Saat itu, aku masih berpikir bahwa jilbab itu ribet. Tapi, malam ini aku sangat bimbang. “Ya Rabb, apakah kejadian ini adalah cara-Mu untuk menunjukkan pintu hidayah-Mu kepadaku?”

******

13 Maret 2008

Sabtu pagi, aku bersiap untuk pergi bersama beberapa teman SMA. Di dalam kamar, aku menatap wajahku dengan lamat di depan cermin. Ku yakinkan hatiku untuk memulai menutupi auratku. Bismillaahhirrahmaanirrahim. Dengan yakin, aku ambil jilbab dan ku tutupi rambutku dengan jilbab berwarna putih. Jilbab putih bersih aku kenakan di hari pertamu ku menutup aurat. Semoga Allah tetap menjaga kebersihan hatiku, sehingga aku bisa tetap istikhomah dengan jilbabku.

Setelah rapi dengan jilbabku, aku pun keluar kamar. Ibuku tak banyak berkomentar tentang penampilanku pagi itu. Semenjak aku duduk di bangku kuliah, aku lebih sering menggunakan jilbab pada hari-hari tertentu, seperti hari Jumat yang dijadikan sebagai Jilbab Day’s di kampusku.

Senin pagi, aku keluar dari kamarku dengan mengenakan jilbab. Aku bersiap jalan ke kampus. Pada hari ketiga itu, ibu dan keluargaku pun belum berkomentar mengenai penampilanku yang kini berjilbab. Mungkin, ibu mengira bahwa aku menengakan jilbab karena ada acara atau hari tertentu di kampus, seperti Jilbab Day’s. Senin itu, hari pertama aku dan temanku, yang seorang muallaf, mengenakan jilbab ke kampus. Teman-teman kuliahku memberikan selamat kepada kami. Mereka berdoa agar kami bisa tetap istikhomah mengenakan jilbab.

Keesokan harinya, saat aku sedang bersiap-siap ke kampus, ibuku berkomentar tentang penampilanku yang lagi-lagi mengenakan jilbab.

Ibuku bertanya, “Tania, kamu pakai jilbab sekarang?”

Aku menjawab, “Iya Bu.”

“Kamu ngapain sih pakai jilbab? Nanti susah loh cari kerja. Untuk sekarang mah ga perlu banget memakai jilbab. Pakai jilbabnya nanti saja kalau kamu sudah menikah.”, Ibuku berkomentar dengan ketus.

Aku hanya menunduk mendengar perkataan ibu. Mata ini berkaca-kaca hampir tak kuat membendungan butiran air yang akan jatuh. Dadaku terasa sesak, seakan oksigen disekitarku lenyap seketika saat mendengar perkataan ibu. Ternyata, niat baik ini ditentang oleh ibuku sendiri.

“Ngapain sih pakai jilbab? Ribet tahu. Nanti bakal susah nyari kerja.”, tiba-tiba Ka Rani menimpali perkataan ibu.

Aku tak habis pikir kalau ibu dan kakakku bisa berkata seperti itu. Mereka tak mendukung keputusanku untuk menutup aurat. Mereka malah mengatakan bahwa sekarang aku belum perlu untuk memakai jilbab. Bahkan kakak lelakiku pun bertanya kepadaku kenapa aku memakai jilbab. Padahal, kakak lelakiku itu menginginkan seorang wanita berjilbab untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi dia malah melarang adik perempuannya mengenakan berjilbab.

Seperti berjalan sendiri di sebuah padang ketika keluargaku tak mendukung niat baikku ini, kecuali ayahku. Meskipun ibu dan kakak-kakakku berkomentar sinis, aku masih memiliki ayah yang berada dipihakku.

******

Malam itu, ketika aku berada di dalam kamar, aku mendengar ibu dan kakak-kakaku membicarakanku. Mereka semua tetap tidak menyukai keputusanku itu. Sungguh menyakitkan mendengar mereka  berbicara di belakangku. Aku merasa seperti dipojokkan dalam keluargaku sendiri. Keluargaku bukanlah keluarga yang tidak sama sekali mengerti agama, tapi kenapa mereka bisa berpikiran sesempit itu terhadap wanita yang menutup auratnya. Sambil meneteskan air mata, hatiku berkata, ”Ya Allah, apakah ini bagian dari ujian-Mu kepadaku? Ya Allah, berikan aku kesabaran untuk menghadapi keluargaku dan berikan aku keteguhan untuk tetap pada pendirianku.”

******

Suatu hari, rohis dari departemenku mengadakan acara. Aku salah satu panitia dari acara tersebut. Seluruh panitia wanita diharuskan mengenakan rok. Saat itu, hatiku langsung menolak untuk mengenakan rok. Aku tak memiliki rok dan aku enggan untuk memakainya. Saat aku memutuskan untuk berjilbab, aku memang masih mengenakan celana panjang dalam setiap aktifitasku. Karena sudah diputuskan bahwa semua panitia menggunakan rok, aku pun terpaksa harus mematuhinya. Aku meminjam rok pada kakakku.

Akhirnya, aku pun mematuhi peraturan panitia untuk mengenakan rok. Seperti biasa, untuk kesekian kalinya ibu ku berkomentar tentang penampilanku. Pagi itu, ibu berkomentar tentang penampilanku yang mengenakan rok.

”Tania, kamu ngapain sih pakai rok? Ribet jalannya.”, tanya ibu kepadaku.

Aku hanya tersenyum dan meminta izin untuk pergi ke kampus.

Ternyata, hari itu adalah permulaan aku mencoba untuk memakai rok. Setelah hari itu, aku mendapatkan hadiah berupa sebuah rok dari sahabatku. Aku kembali berpikir apakah kado ini adalah sebuah teguran dari Allah agar aku segera mengenakan rok. Setelah hari itu, aku mulai terbiasa memakai rok saat pergi ke kampus. Aku pun mulai memanjangkan jilbabku hingga menutupi dada.

******

13 Agustus 2008

Setelah jam kuliah berakhir, aku kembali dijemput oleh laki-laki yang telah dekat dengan ku sejak kelas 2 SMA. Sepanjang perjalanan otakku terus berpikir memilih kata-kata yang tepat untuk mengakhiri hubungan kami. Kata-kata yang tidak menyinggung dan menyakiti dia. Sesampainya di depan rumahku, aku turun dari motornya.

Dengan suara sedikit parau, aku memberanikan diri mengatakan, ”Rian, mulai hari ini, lebih baik kita berteman saja. Masih mau kan menjadi teman Tania?”

Rian menjawab, ”Memangnya kenapa? Kenapa seperti ini?”

Aku terdiam. Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata. Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja tanpa bisa dibendung.

Kemudian Rian berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ”Baiklah, kalau Tania memang maunya seperti itu.”

Aku melihat gurat sedih diwajahnya. Kami berdua terbuai dalam kesedihan saat mengakhiri hubungan yang telah berjalan kurang lebih 3 tahun. Setelah mengakhiri hubungan kami, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

Saat tiba di kamar, air mata ini belumlah terhapus sempurna. Namun, aku merasakan sebuah kebahagian, kebebasan, dan ketenangan, bukan lagi kesedihan seperti beberapa menit yang lalu. Aku seperti telah meletakkan beban yang selama ini aku pikul. Terasa ringan. Aku seperti burung yang dibebaskan dari sangkarnya. Bebas dan lepas. Kini aku bisa lebih fokus untuk kuliahku, keluargaku, aktifitasku, dan tentu saja ibadahku.

Setelah malam itu, langkahku terasa ringan untuk mencintai-Nya dan melakukan hal-hal yang disukai-Nya tanpa harus membagi perhatian kepada orang yang belum tentu menjadi jodohku. Kesabaranku terhadap keluargaku pun berbuah manis. Kini, mereka telah menerima perubahan dalam diriku dengan senang hati.

Aku teringat dengan buku karya Salim A. Fillah yang berjudul Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim yang pernah kubaca. Aku semakin yakin dan bangga menunjukkan identitasku sebagai seorang muslimah. Aku tak perlu memikirkan tentang komentar-komentar orang tentang aku yang memakai jilbab panjang dan mengenakan rok. Aku adalah seorang muslimah. Menutup aurat bukanlah kebutuhanku, tetapi kewajibanku. Hal tersebut sudah jelas dikatakan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 59,

”Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba KisahMenggugah Pro-U Media 2010 dihttp://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Jakarta, 28 November 2010