Tahta Mahameru – Sebuah Tempat Tertinggi


Penulis      : Azzura Dayana

Penerbit    : Republika

Harga        : Rp 55.000

“Aku tidak pernah berniat menaklukkan gunung. Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian…. Pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa!”

(Idhan Lubis)

Tahta Mahameru  mengisahkan tentang persahabatan yang tidak biasa antara Ikhsan dan Faras. Ikhsan seorang pendaki gunung yang berwatak keras dari keluarga broken home, sehingga menjadikan ia sebagai seorang yang pendendam. Ia mendaki Mahameru sebagai peredam sesaat jiwanya yang penuh dengan kebencian. Di Ranu Pane, ia bertemu dengan Faras, seorang gadis sederhana, kutu buku, dan pecinta Kahlil Gibran.

Tiga tahun berturut-turut dan tiga kali bertemu, persahabatan singkat terjalin antara Ikhsan dan Faras. Tiga pertanyaan pun diajukan Ikhsan kepada Faras, masing-masing dalam tiga pertemuan singkat mereka sebelum mendaki Mahameru.

Karena perasaan bersalah terhadap sahabatnya, Faras pun menelusuri jejak Ikhsan melalui e-mail yang dikirimkan olehnya. Penelusuran jejak tersebut membawa Faras bertualang ke Borobudur, Makassar, Tanjung Bira, Bulukumba, dan akhirnya kembali ke Ranu Pane. Dalam penelusurannya, Faras bertemu dengan Mareta, yang ternyata adalah adik tiri Ikhsan yang satu sama lain saling membenci, saat berada di Borobudur.  Mareta menjadi teman seperjalanan Faras dalam menelusuri  keberadaan Ikhsan. Apakah penelusuran jejak tersebut mampu mempertemukan Faras dan Ikhsan? Apakah Faras berhasil menjawab tiga pertanyaan yang dulu diajukan oleh Ikhsan? Lalu, akankah petualangan Ikhsan membuat keyakinannya bertambah kepada Yang Maha Kuasa?

Tahta Mahameru menyajikan eksotisme Ranu Kumbolo, Kalimati, Savana Oro-oro Ombo, dan sunrise di dataran tertinggi di Pulau Jawa. Selain itu, kita pun akan diajak menikmati keindahan Bulukumba dan Tanjung Bira, mengupas adat suku Bugis beserta kapal Pinisinya, serta menyaksikan kekejaman dari sebuah hukum adat yang merenggut jiwa Fikri, teman baik Ikhsan.

Alur maju mundur yang dihadirkan penulis membuat saya tidak sabar untuk secepatnya menuntaskan buku ini. Sudut pandang orang pertama yang berasal dari tiga tokoh, yaitu Faras, Ikhsan, dan Mareta membuat karakter dari tokoh-tokoh tersebut semakin kuat. Namun, saya sedikit terganggu dengan penggunaan kata “gue” pada setiap sudut pandang Mareta.

Membaca Tahta Mahameru sungguh membawa kita untuk mengenal keindahan alam Indonesia, beserta budayanya melalui petualangan-petualangan tokohnya dari satu daerah ke daerah lain. Tidak hanya tentang petualangan, penulis pun menghadirkan sisi religi yang menggugah. Salah satu bagian yang menggetarkan adalah ketika Faras membaca Al-Qur’an surat Al A’raf, yang artinya Tempat Tertinggi, saat berada di puncak Mahameru. Sungguh menggetarkan mendengarkan lantunan Al-Qur’an di puncak tertinggi Pulau Jawa itu. Terasa sangat kerdil saat dihadapkan dengan ciptaan-Nya yang begitu hebat. Mahameru hanya satu bagian kecil saja dari seluruh ciptaanya-Nya di semesta raya.

“We just have to open  our eyes, our hearts, and minds. If we just look quiet we’ll see the signs. We can’t keep hiding from the truth…”

(Maher Zain – Open Your Eyes)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Republika online.
Yang udah mampir, jika berkenan bisa juga mengunjungi dan meninggalkan jejak disini.

Terima Kasih ^^

Depok, 31 Mei 2012