Kisah Cinta dari Tepian Kapuas


Judul Buku : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah hlm : 512 hlm

ISBN : 978-979-22-7913-9

Harga : Rp 72.000,-

—-

“Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan.”

(Pak Tua – 173)

Novel dengan front cover yang melukiskan gadis berpayung dengan berlatar belakang suasana tepian Kapuas kala senja, mengangkat tema cinta antara dua insan. Meski novel ini bertemakan cinta, namun novel ini tidak seperti novel roman yang hanya berfokus pada interaksi tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam kisah cinta. Novel ini justru membiarkan konflik dan kisah dari tokoh-tokoh lain untuk mengambil porsi dalam alur cerita. Hal inilah yang menjadikan novel ini memiliki nilai plus dari sebuah novel bertemakan cinta.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mengambil latar tempat di tepian Kapuas, kota Pontianak. Kalian tahu asal muasal nama Pontianak? Pada bab pertama di novel ini, Tere Liye menjelaskan bahwa kota yang dilalui garis katulistiwa tersebut berasal dari nama hantu dalam bahasa Melayu. Alkisah, Sultan Alqadrie lah yang berhasil mengalahkan hantu Ponti saat ia ingin membangun istananya. Kemudian ia menggunakan nama Ponti sebagai nama kota. Jadilah kota di tepian Kapuas itu bernama Pontianak. Kisah singkat yang mungkin bisa menambah pengetahuan pembaca.

Nilai lokalitas semakin terasa, kala Tere Liye menghadirkan sebuah masyarakat beragam etnis yang hidup rukun dan sederhana dengan aktivitasnya di sekitar Kapuas. Sebuah kesederhanaan yang akan mengajak pembaca untuk memahami besarnya semangat kekeluargaan dalam masyarakat beragam etnis tersebut. Nilai-nilai masyarakat yang masih menunjukkan keharmonisan tinggi ini akan melingkupi sebuah kisah dari tokoh sentral seorang pemuda bernama Borno.

Adalah Borno, seorang pemuda yang tertarik kepada seorang gadis peranakan Cina, yang kerap dideskripsikan sebagai gadis sendu menawan, yang benama Mei. Sebelum cinta itu mendatangi Borno, pembaca akan diajak untuk sedikit mengenal kepribadian Borno yang tercermin dalam perilaku, pikiran, dan usahanya untuk tetap giat bekerja. Setelah ayahnya meninggal, segala macam pekerjaan telah ia jalani, mulai dari menjadi buruh di pabrik pengolahan karet, penjaga karcis di dermaga feri, hingga menjadi operator SPBU. Asalkan baik, ia akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Sosok Borno memang digambarkan sebagai seorang pemuda yang berjiwa mandiri dan berhati lurus. Setelah sekian kali ia berganti pekerjaan, akhirnya profesi yang menjadi tambatan pencarian nafkahnya adalah sebagai pengemudi sepit. Sepit merupakan istilah yang digunakan masyarakat lokal terhadap perahu kayu dengan mesin tempel. Kata sepit diambil dari bahasa asing, yaitu speed. Dari sepit inilah kisah cinta itu berawal.

Mei adalah seorang gadis peranakan Cina yang berprofesi sebagai guru. Meski Mei tinggal di Surabaya, ia lebih memilih kota Pontianak, kota kelahirannya, sebagai tempat pengabdiannya sebagai guru. Artinya, pertemuan Borno dengan Mei hanyalah sebentar. Mei akan pulang ke Surabaya setelah tugasnya selesai.

Cinta selalu bisa membuat seorang anak manusia menjadi penuh dengan asumsi yang berkelibat dalam pikiran. Begitu pula dengan Borno. Setelah kepulangan Mei ke Surabaya, pembaca akan dihanyutkan dalam kisah-kisah lucu dan menyentuh tentang pasang surut perasaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Cinta yang begitu sederhana, unik, dan sangat manis. Ia pun turut serta berkeliling dari Pontianak, Surabaya hingga kembali lagi ke Pontianak bersama empunya perasaan. Yah, Borno sempat menyambangi Surabaya untuk menemani Pak Tua terapi. Kejutan pun muncul. Kerinduan Borno tertunaikan. Borno menghabiskan hari-harinya bersama Mei selama di Surabaya. Itulah yang namanya takdir. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, karena semuanya telah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa.

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno….

Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya…”

(Pak Tua – hal 194)

Sudut pandang orang pertama sebagai Borno, mampu membawa pembaca untuk turut serta berasumsi sendiri akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tak tersampaikan. Alur cerita yang mengalir akan membawa pembaca kepada alur progresif yang melibatkan pengambilan keputusan Borno hingga menyebabkan roda kehidupan berada pada titik terbawah.

Lalu, dimanakah angpau merah yang menjadi bagian dari judul novel ini? Saat pertama kali Mei menaiki sepit Borno, Mei sengaja meletakkan angpau merah di sepitnya tanpa sepengetahuan Borno. Borno yang mengira bahwa angpau merah tersebut berisikan surat, maka tak beranilah ia untuk membukanya. Borno pun mencari si empunya angpau tersebut. Hingga suatu ketika, ia menduga bahwa angpau merah yang ada padanya sama seperti angpau merah yang Mei bagikan kepada teman-teman pengmudi sepit lainnya. Sejak itu, Borno pun tak sempat membuka isi angpau tersebut hingga pada tahap klimaks dari kisah ini. Pada akhirnya, angpau merah itulah yang membuat rahasia misteri di masa lalu muncul kembali untuk menyempurnakan siklus cerita ini.

Seperti biasa, Tere Liye selalu bisa mengungkapkan hal istimewa dari kehidupan yang luput dari perhatian, serta memasukkan kisah inspiratif dan motivatif disetiap novelnya. Kali ini, esensi dari pesan itu dituang melalui tokoh bernama Pak Tua. Dialah sahabat seprofesi Borno yang senantiasa memberikan filosofi kehidupan dan hakikat cinta sejati.

Mengenai salah satu pekerjaan Borno sebelum menjadi pengemudi sepit, Tere Liye menyinggung ulah penjaga karcis kapal feri yang bertindak curang. Mereka membiarkan puluhan penumpang feri yang tidak memiliki tiket untuk bisa menaiki kapal feri. Imbalannya adalah mereka akan mendapat bayaran separuh harga tiket setiap akhir bulan dari para penumpang tersebut. Jelas bahwa itu bukanlah uang halal. Kejadian seperti ini sepertinya sudah tidak asing kita temukan dalam kehidupan nyata. Dari pejabat kecil hingga pejabat besar pun ada yang melakukan hal tersebut dengan berbagai alasan.

“Kau tahu, Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan.

(Ibu – hal 42)

Kisah yang berlatar di tepian Kapuas ini tidak lengkap rasanya jika tidak ada suku asli Kalimantan yang dihadirkan. Tere Liye menghadirkan Suku Dayak melalui tokoh Kak Unai dan ayahnya. Meski tidak banyak yang diangkat, Tere Liye menyisipkan adat dan perawakan Suku Dayak melalui kisah cinta antara Bang Togar dan Kak Unai. Istana Kadariah yang merupakan objek wisata bersejarah di Pontianak juga diperkenalkan oleh Tere Liye. Meski tidak ada pendeskripsian secara detail, Istana Kadariah bisa menjadi salah satu tujuan wisata bersejarah yang patut dikunjungi saat kalian menjejak di kota Pontianak.

Keberagaman etnis dalam novel ini direpresentasikan melalui tokoh Koh Acong, Cik Tulani, Andi, dan Bang Togar. Mereka berasal dari etnis Cina, Melayu, Bugis, dan Batak. Keempat tokoh tersebut membawa karakter dari etnis mereka masing-masing.

Dalam hal pengetikan, saya hanya menemukan satu kesalahan ketik, yaitu pada halaman 346 line 17. Meski gaya bahasa yang disajikan lebih ringan, namun ciri khas Tere Liye tetap terasa melalui caranya bertutur tentang cinta dan hikmah kehidupan. Yang menjadikan novel ini lebih dari sekedar sebuah kisah cinta biasa. Melalui tokoh Borno, Tere Liye menitipkan pesan-pesan akan pentingnya memelihara sifat jujur, ketekunan, dan kerja jeras untuk bisa meraih kesuksesan.

Bagi pembaca yang menginginkan kisah cinta berbeda, yang dikemas secara apik dengan nuansa lokalitas dan dialog-dialog segar yang inspiratif, maka novel ini menjadi pilihan yang tepat untuk dibaca.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba resensi yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama

Depok, 30 Juni 2012