Membaca Pun Perlu Seni


Saat H-3 penutupan, saya baru mengetahui tentang informasi mengenai lomba ini. Jadilah keesokan harinya saya berkunjung ke Gramedia Depok untuk mencari buku The Art of Reading. Membaca tulisan di front cover nya saja, sedikit menyinggung kebiasaan saya yang beberapa kali membeli buku, namun tidak sempat membacanya. Pun di back cover buku ini. Lagi-lagi saya tertunjuk, karena saya termasuk orang yang suka membaca, namun terkadang hanya suka di awal dan sering tidak menuntaskan buku yang saya baca. Tidak fokus.

Ketika saya melihat daftar isi, sepertinya informasi yang ada dibuku ini akan menjadi “asupan yang bernutrisi” untuk meningkatkan minat baca saya. Saya selalu iri dengan teman-teman yang sangat bookholic. Selalu bisa membaca lebih dari lima buku dalam satu bulan. Bahkan, beberapa hari lalu, saya sempat membaca di blog teman saya, bahwa kenalannya ada yang menargetkan seribu buku untuk dibaca dalam satu tahun. Di bulan Juni ini, ia sudah menyelesaikan sembilan ratus buku. Jika dihitung-hitung, maka orang itu berhasil menyelesaikan lima buka dalam sehari. Wow..!!! Lima buku saja belum tentu mampu saya lahap dalam satu bulan.

Saat ini, saya baru bisa menuntaskan kira-kira dua hingga tiga buku setiap bulannya. Saya selalu menganggap “Tak berfaedah menyelesaikan banyak judul namun tak mengambil manfaat dari isinya” Saya pun membaca sesuai dengan ritme saya untuk mengambil manfaat dari kandungan setiap buku. Namun, lagi-lagi saya tertohok ketika membaca buku The Art of Reading. Alumni-alumni Bacakilat mampu membaca dengan kilat dan tuntas, serta mampu memahami isinya dengan baik. That’s amazing…!!! Yah, kalau bisa Bacakilat dan memahami isinya dengan baik, kenapa tidak? Saya pun kalah telak.

“Kita tidak mungkin bisa menghabiskan semua buku, tetapi kita bisa menghabiskan semua buku yang sesuai dengan kebutuhan kita.”  hal 17

Di dalam buku ini, penulis menjelaskan bahwa kita harus memiliki alasan yang kuat dan personal mengapa kita harus membaca. Jika kalian bingung harus membaca buku yang mana, maka kalian harus membuat prioritas membaca. Jika tidak memiliki prioritas, maka yang akan terjadi adalah membeli banyak buku dan membiarkannnya teronggok begitu saja. Selanjutnya, tujuan membaca pun harus ditentukan sebelum membaca buku. Kenapa? Karena menentukan tujuan akan sangat membantu pikiran kita dalam menemukan informasi yang dibutuhkan dan menyingkirkan yang tidak perlu.

Tidak hanya itu, penulis pun menyampaikan beberapa seni dalam proses membaca, yaitu dengan membangun motivasi membaca, mengatasi hambatan mental dalam proses membaca, cara membaca agar lebih efektif, meningkatkan konsentrasi, kondisi flow dalam membaca, dan tentu saja membangun kebiasaan membaca.

Saat membaca buku ini, saya pun beberapa kali menuruti apa-apa yang dikatakan penulis. Mulai dari merubah posisi baca saya yang saat itu membaca dengan badan bersandar di bantal, serta posisi mata dan buku tidak sembilan puluh derajat. Yah, posisi membaca akan membuat proses membaca menjadi lebih efektif. Hal ini karena posisi membaca akan sangat memengaruhi seberapa lama kita bertahan dalam membaca. Posisi membaca yang paling baik adalah dengan duduk tegak yang nyaman, serta mata dan buku membentuk sudut sembilan puluh derajat.

Saya pun iseng untuk mencoba cara Bacakilat, yaitu dengan “memindai menjelajah”. Saat memindai dan menjelajah, maka kita sedang mengaktifkan otak kanan dan kiri. Kenapa? Karena proses memindai merupakan kerja dari otak kanan, sedangkan proses menjelajah adalah kerja dari otak kiri. Namun, percobaan saya untuk memindai menjelajah masih belum berhasil.

Ayo, tumbuhkan dan tingkatkan minat bacamu….!!!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama

Depok, 7 Juli 2012 ; pukul 15.19 wib