Bio Farma, Vaksin, dan Imunisasi


Pada hari Jumat (13/7), Bio Farma mengadakan sebuah acara yang mempertemukan para blogger dari kota Depok, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Pertemuan yang diadakan di Aula PT Bio Farma ini merupakan acara Launching Info Imunisasi dan Workshop Tentang Vaksin dan Imunisasi untuk Blogger. Tujuan diundangnya para blogger dalam acara ini adalah untuk membangun networking dan sharing informasi mengenai vaksin dan imunisasi. Dalam kesempatan tersebut, para blogger tidak hanya diberikan informasi mengenai sejarah perusahaan, vaksin, dan imunisasi, tetapi juga kunjungan ke pabrik vaksin dan anti sera satu-satunya di Indonesia yang berkualitas internasional.

PT Bio Farma (Persero)

PT Bio Farma (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. Awalnya, perusahaan yang berdiri pada tanggal 6 Agustus 1890 ini menempati sebuah pavilion di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia yang kini telah beralih fungsi menjadi RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Saat ini, pabrik Bio Farma terletak di Jalan Pasteur No. 28, Bandung dengan luas lahan sekitar 9 ha.

Mengenai logo Bio Farma yang baru, banyak isu yang beredar kalau logo tersebut berkaitan dengan lambang Zionis. Sejak tahun 2009, Bio Farma telah mengganti logo yang sebelumnya bergambar ular memilit cawan, menjadi pendar bintang. Gambar pendar bintang itu berdasarkan bentukan dari senyawa Glicoprotein. Pendar bintang dimaknai sebagai semangat dan dinamika Bio Farma yang memiliki masa depan cemerlang.

Bio Farma mempunyai peran nasional dengan memenuhi kebutuhan vaksin untuk 5 juta bayi, 27,6 juta anak usia sekolah, dan 15 juta wanita subur per tahunnya. Sejak tahun 1997, Bio Farma telah mendapat Prakualifikasi WHO (World Helath Organization) melalui proses penyeleksian yang sangat ketat, baik dari aspek kualitas, keamanan, maupun khasiat vaksin. Sejak mendapatkan “paspor” tersebut, Bio Farma mampu mengekspansi produk-produknya ke pasar international yang tersebar di 117 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam seperti Iran, Pakistan, Malaysia, Mesir dan negara lainnya seperti India, Thailand, Afrika Selatan dan lainnya.

Vaksin dan Imunisasi

Vaksinasi adalah imunisasi aktif secara buatan dengan pemberian dalam jumlah kecil mikroba yang sudah di-inaktivasi atau dilemahkan kepada orang sehat dengan tujuan untuk merangsang tubuh orang tersebut membentuk antibodi (kekebalan) terhadap mikroba tersebut. Lalu, kapan vaksin dibutuhkan? Yaitu ketika suatu penyakit sangat mudah menular, timbul wabah dan banyak kasus yang terjadi, serta menimbulkan kematian atau kecacatan. Untuk membuat suatu vaksin perlu dilakukan penelitian yang sangat panjang. Mulai dari tahap pengembangbiakan bibit vaksin, hingga vaksin dapat digunakan. Oleh karena itu perlu disokong dengan teknologi memadai dan SDM yang berkualitas.

Saat ini Bio Farma telah memproduksi vaksin untuk program imunisasi, seperti Tetanus Toxoid, Diphteria Tetanus, DTP, DTP-HB, Hepatitis B, BCG, Polio, dan Measles. Semua produk tersebut dapat dilihat di WHO lis of vaccines for purchase. Sedangkan vaksin meningitis, IPD, dan HPV hingga saat ini masih diimpor.

Pada kesempatan tersebut, pihak Bio Farma menginformasikan kepada para blogger terkait penggunaan tripsin babi pada pembuatan vaksin polio, yaitu:

  1. Tripsin bukan bahan pembuat vaksin, tapi untuk harvest sel (panen) yang digunakan untuk media virus. Tripsin merupakan bahan untuk melepaskan sel dari tempat merekatnya virus pada media virus.
  2. Tripsin kemudian dibuang dan ada proses pencucian, dan kemudian pelarutan dengan air dalam jumlah yang sangat besar.
  3. Pada produk final tidak ditemukan unsur tripsin.

Untuk vaksin lainnya, Bio Farma tidak menggunakan tripsin seperti polio. Dengan demikian, bisa dijelaskan bahwa vaksin adalah suatu medikasi yang sifatnya urgent, bukan pilihan seperti makanan.

dr. Novillia Sjafri Bachtiar, M. Kes yang  menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut menjelaskan akan pentingnya imunisasi sebagai pelengkap setelah ASI. ASI memang dapat melindungi anak, tetapi hanya untuk kekebalan secara umum. Sedangkan imunisasi mampu melindungi anak setelahnya untuk kekebalan secara khusus. Seorang anak yang telah diberikan imunisasi akan memiliki perlindungan untuk tidak mudah tertular dan tidak menularkan penyakit kepada anak lainnya. Yah, imunisasi tidak hanya memberikan kekebalan individu tetapi juga kekebalan kelompok. Saat Anda berada di lingkungan yang sudah mendapatkan imunisasi, maka otomatis Anda akan terlindungi, namun jika Anda berada di kelompok yang cakupan imunisasinya rendah, maka Anda beresiko lebih besar tertular penyakit.

Salah satu bukti dari keberhasilan imunisasi yaitu pada tahun 1979 Indonesia dinyatakan bebas (eradikasi) dari penyakit cacar api atau variola atau smallpox. Bagi Anda yang lahir sebelum tahun 1979, mungkin pernah merasakan imunisasi vaksin cacar api ini.

Pada kesempatan itu juga, website Info Imunisasi resmi diluncurkan. Info Imunisasi  berisi informasi seputar vaksin, sejarah imunisasi, serta informasi imunisasi yang harus diberikan kepada anak berdasarkan usianya. Tidak hanya itu, pengunjung pun dapat bertanya langsung kepada dr. Erwin dan dr. Novi. Jika kurang puas, Info Imunisasi juga dapat diakses melalui Facebook dan Twitter (@infoimunisasi).

Depok,  21 Juli 2012 ; pukul 00.39 WIB