Viro, Live the Moment : Air Minum Untuk Daerah Pesisir


“Kalau musim kemarau airnya asin,” jawab seorang ibu saat saya berkunjung ke salah satu desa di pesisir Gorontalo Utara beberapa waktu lalu. Keterlibatan dalam sebuah proyek pengadaan air bersih yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberi kesadaran tersendiri akan langkanya ketersediaan air bersih yang layak dikonsumsi di daerah pesisir.

Saya yang selama ini hidup di kota Jakarta bagian selatan tidak terlalu dipusingkan dengan masalah sumber air bersih, termasuk untuk minum. Untuk memasak air, saya hanya tinggal buka kran, memasukkan air yang mengalir ke dalam teko, kemudian dimasak hingga air mendidih. Hal ini karena kondisi air sumur di rumah masih baik untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk sebagai air minum, sehingga air galon belumlah terlalu dibutuhkan.

Kenyataan berbeda yang saya temukan saat mengunjungi salah satu daerah pesisir di Indonesia. Lokasi yang terletak di dekat pantai menjadi hambatan utama dalam memperoleh air tawar yang bersih, jernih, tidak berbau, dan layak untuk diminum. Sehingga masyarakat pun tidak bisa bergantung sepenuhnya dengan air sumur yang mereka miliki. Meski PAM sudah dapat menjangkau beberapa wilayah pesisir, namun minimnya pasokan listrik menjadi masalah lain yang harus mereka hadapi. Mati lampu yang kerap terjadi membuat ketersediaan air bersih oleh PAM terhenti. Masyarakat kemudian kembali harus menggunakan air dalam sumur dengan tingkat salinitas tinggi. Beruntung jika musim penghujan datang. Air di dalam sumur akan berkurang kadar garamnya karena telah bercampur dengan air hujan.

Saat berada di daerah pesisir tersebut, salah satu tugas saya adalah mengukur nilai TDS (Total Dissolved Solids) atau jumlah zat padat terlarut dari air sumur yang terdapat di salah satu desa di pesisir Gorontalo Utara. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa air sumur di daerah pesisir tesebut memiliki nilai TDS yang cukup tinggi, yakni 2630 ppm. Padahal, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/Menkes/Sk/Vii/2002 Tentang Syarat-Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air Minum, nilai maksimum TDS yang diperbolehkan untuk dikonsumsi sebesar 500 ppm.

Jika mengacu pada keputusan tersebut, sangat jelas bahwa air sumur tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Kadar TDS yang tinggi secara tidak langsung dapat menyebabkan gangguan sistem tubuh. Gangguan dapat berupa bioakumulasi pada jaringan/organ manusia. Selain itu, tingginya kadar TDS dapat memacu organ bekerja ekstra, sehingga memungkinkan terjadi kerusakan organ/jaringan.

Keadaan air sumur yang tidak layak dikonsumsi tersebut menjadikan air galon menjadi sumber air minum utama untuk masyarakat di daerah pesisir. Viro merupakan salah satu produk air minum yang terpercaya karena mutu dan kemurniannya. Kenapa? Karena menurut Departemen Kesehatan, Viro telah memenuhi syarat-syarat air minum, yakni tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak mengandung logam berat. Selain itu, Viro memiliki nilai TDS sebesar 19-24 ppm, sehingga aman untuk dikonsumsi. Dengan komitmen yang tinggi untuk berinovasi, diharapkan Viro mampu memenuhi kebutuhan air minum untuk masyarakat di pesisir Indonesia dengan mamanfaatkan teknologi reverse osmosis yang bertenaga surya, sehingga dapat memanfaatkan air laut dan sinar matahari yang merupakan sumber daya alam terbesar yang dimiliki wilayah pesisir di Indonesia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba ngeBlog Bareng Viro

http://viro.co.id/

Depok, 31 Juli 2012; pukul 00.38 am

sumber gambar: dokumen pribadi dan disini