Foodraising : Sedekah untuk Pejuang Kehidupan


This slideshow requires JavaScript.

Jika seseorang bertanya pada saya, “Bilakah dirimu merasa berarti untuk orang lain?” maka jawaban saya adalah ketika bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan. Berada di lembaga kemanusiaan, seperti Dompet Dhuafa, memberi saya kesempatan sebagai penyambung tangan dari para donatur kepada mereka yang membutuhkan dan memberikan kebahagian kepada mereka. Meski sebenarnya, di luar Dompet Dhuafa pun saya dan kalian juga memiliki kesempatan yang sangat besar untuk melakukan hal tersebut. 

Adalah foodraising yang kali ini saya lakukan bersama tim Generasi Zakat —Generasi Zakat adalah nama yang telah saya dan dua puluh satu peserta Management Trainee 2 Dompet Dhuafa sepakati, sebagai identitas kami untuk menularkan semangat menunaikan ZISWaf, serta mengajak pemuda untuk menebar kebaikan—. Foodraising merupakan kegiatan mengumpulkan makanan berlebih, baik yang berasal dari toko bakery, resto, atau pun hotel. Kemudian, makanan tersebut dibagikan kepada orang-orang yang membuuhkan.

###

Sabtu pagi, jalanan ibu kota masih cukup lenggang. Mentari masih malu-malu menampakkan diri, tetapi aku sudah bergegas menuju kantor di Ciputat. Meski hari itu adalah hari libur, tetapi kata libur tidak berlaku bagi para penyapu jalanan, pemulung, dan pedagang kecil lainnya. Mereka masih harus berjuang untuk menjemput rezeki dari-Nya.

Hari itu, saya memiliki agenda bersama tim relawan Generasi Zakat. Kami berenam. Ada saya, Atha, Adi, Widodo, Ari, dan Ayya yang akan membagikan makanan hasil foodraising kepada “para pejuang kehidupan” di sekitar Jabodetabek. Awalnya, kami agak hopeless, karena baru H-1 kami mendapatkan kepastian siapa saja donatur yang ingin berpartisipasi untuk memberikan sedekah makanan. Alhamdulillah, ada 100 roti Veebrad, 20 roti Kimmybun, dan 25 kotak Ayam Bakar Mas Mono yang kami bagikan kepada “para pejuang kehidupan.”

Dengan menggunakan mobil, saya, Ayya, dan Ari mulai menyisir jalanan untuk memberikan sekedar sarapan untuk mereka. Sedangkan, Atha, Adi, dan Widodo menyisir jalanan dengan menggunakan motor. Kami menyisir jalan dari Ciputat, kemudian dilanjutkan ke Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Bulungan, Fatmawati, Pondok Labu, Cinere, hingga Kelapa Dua. Yah, kami berburu “para pejuang kehidupan”. Alhamdulillah ada 95 “pejuang kehidupan” yang kami berikan makanan. Mulai dari penyapu jalan, pemulung, tukang sol sepatu, hingga ibu penjual jamu menjadi sasaran kami.

Jika ditanya lelah atau tidak, maka jawaban saya dan teman-teman pastilah lelah. Tenaga kami cukup terkuras karena  harus menyisir jalan dibawah teriknya matahari. Ah, kami saja yang baru beberapa jam menyisir jalanan, sudah merasakan lelah, haus, dan panas. Apalagi dengan mereka yang setiap harinya memang berkutat di jalanan untuk sekedar mencari sesuap nasi. Tapi, rasa lelah itu terbayar lunas pada saat kami memberikan makanan kepada mereka dan seketika itu juga mereka tersenyum, serta mengatakan, “Terima kasih, Nak.” Perasaan hopeless yang sempat hadir saat persiapan foodraising, kini berbuah senyuman di setiap wajah kami. Ada satu bagian yang membuat hati saya terenyuh, yaitu ketika saya memberikan sekotak Ayam Bakar Masmono kepada seorang bapak tukang sol sepatu. Setelah menerima kotak makanan tersebut, bapak itu langsung berjalan mencari lokasi untuk menikmati makan siangnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ah, pastilah bapak itu belum makan siang.

Saya sangat bersyukur bisa berkesempatan untuk bertemu dengan mereka dalam perjalanan kali ini. Mereka yang gigih menyusuri jalanan untuk menjemput rezeki, meski matahari terik memanggang kulit mereka. Malu sekali diri ini, atas keluhan-keluhan yang terkadang sering saya sampaikan kepada-Mu. Keluhan atas ketidaknyaman yang saya rasakan. Jika dibandingkan dengan mereka, maka sebenarnya saya masih jauh lebih beruntung. Sehari-hari saya berada di kantor dengan AC yang sejuk, mengendarai motor kemana-mana, ada ibu yang selalu menyiapkan masakan terbaiknya, rumah yang nyaman, kasur yang empuk, dan kenikmatan lainnya dari-Mu yang tidak bisa saya tuliskan meski air laut menjadi tintanya sekali pun. Maka,  sayaanggap pertemuan dengan mereka dalam perjalanan kali ini sebagai sebentuk cinta-Mu untuk mengingatkanku agar selalu bersyukur.

“Berbagi dengan yang membutuhkan itu tidak semudah yang diperkirakan, tapi lebih indah dari yang dipikirkan.” (Adi Kurniawan)

***

Depok, 20 Mei 2013 ; pukul 05.40

Kamera : Canon Power Shot SX150 IS

hujantanpapetir-801edited:

Depok, 3 September 2013 ; pukul 11.06