Saatnya Wakaf Produktif


wakaf

Bismillahhirrohmannirrohim…. 

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Materi mengenai fiqih wakaf menjadi penutup untuk pembahasan fiqih dari trilogi pengaman sosial, yakni zakat, infaq/shodaqoh, dan wakaf. Ketiga trilogi tersebut merupakan ibadah harta. Zakat merupakan ibadah harta yang wajib hukumnya, sedangkan infaq, shodaqoh, dan wakaf adalah ibadah harta yang hukumnya sunah.

Materi yang disampaikan kali ini membuka pikiran saya mengenai wakaf. Sebelumnya, saya hanya mengetahui bahwa wakaf itu hanya berupa masjid atau tanah yang nantinya akan dibangun masjid atau pemakaman. Tenyata, paradigma yang selama ini melekat di masyarakat mengenai wakaf adalah kurang tepat. Wakaf is an asset management, not a liability. Yah, wakaf adalah asset. Jika dalam dunia bisnis, wakaf itu layaknya modal. Seperti halnya modal yang tidak boleh habis, wakaf pun demikian. Wakaf yang ideal adalah yang digunkan untuk bisnis real.

“Diriwayatkan dari Ibnu Uar r.a. bahwa Umar bin Al-Khathab r.a. memperoleh tanah (kebun) di Khaibar. Lalu ia datang kepada Nabi SAW untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut. Ia berkata, “Wahai Rasulullah SAW saya memperoleh tanah di Khaibar; yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah tersebut; apa perintah engkau (kepadaku) mengenainya? Rasulullah SAW mnjawab: “Jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasil)-nya”. Dari hadits tersebut jelas bahwa wakaf boleh dijadikan bisnis real yang menghasilkan keuntungan. Kemudian, keuntungan yang diperoleh dapat disedekahkan.

Dengan alasan bahwa wakaf is not a liability, jadi seharusnya aset yang diwakafkan tidak menyebabkan tanggungan baru bagi umat. Misalnya, seharusnya suatu masjid tidak menyandarkan biaya operasional masjid hanya kepada infaq dan shodaqoh dari para jamaah. Jika selama ini kita hanya tahu bahwa yang diwakafkan itu adalah masjid dan tanah, ternyata, uang, bangunan, maupun sekolah dapat diwakafkan. Yang menarik, ternyata Tabungan Wakaf Indonesia mengelola wakaf menjadi produktif dengan membangun beberapa bisnis real, seperti penyewaan ruko, food court, dan futsal. Dari bisnis real tersebut diperoleh keuntungan yang nantinya tidak hanya digunakan untuk biaya operasional, tetapi juga untuk disedekahkan. Jadi, sekalipun ingin mengelola wakaf tidak produktif, seperti masjid, sebaiknya nadzir (orang yang mengelola wakaf) juga mengelola wakaf produktif, sehingga keuntungan wakaf produktif dapat digunakan untuk biaya operasional wakaf tidak produktif.

Bicara soal wakaf produktif, saat ini sedang gencar-gencarnya para pengusaha dan motivator dalam memperkenalkan gerakan Indonesia Berdaya. Sebuah konsep sedekah bersama yang diarahkan untuk pembelian aset-aset menguntungkan dan lahan-lahan produktif. Seratus persen dari hasil aset tersebut diperuntukkan untuk anak-anak yatim dan dhuafa di sekitar lokasi aset. Dengan gerakan Indonesia Berdaya ini, lahan-lahan di Indonesia terselamatkan dari ‘serangan asing’, masyarakat di sekitar aset dan lahan tersebut diberdayakan, anak-anak yatim di sekitarnya tersantuni terus-menerus dari hasil aset tersebut, dan akan menjadi amal jariyah bagi seluruh donatur, penggiat, dan juga pendukung.

Dalam jangka panjang, gerakan Indonesia Berdaya ini akan menjadi bagian dari ketahan ekonomi nasional. Kalau kita tidak bergerak sekarang, lama kelamaan anak-cucu kita hanya akan ‘menumpang hidup’ di negerinya sendiri. Mari kita ambil bagian dalam gerakan ini. Beli kembali Indonesia. Saatnya Wakaf Produktif !!!

Wallahu’alam.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran : 92)

***

In Class Training; Jumat, 7 November 2012; Hari ke-13 (edited)

Depok, 10 Desember 2012; pukul 05.58 WIB

hujantanpapetir-801