Sharing Materi Pra Nikah


Yah, seminar pra nikah adalah salah satu seminar yang memiliki magnet kuat bagi para jomblowan dan jomblowati, eh para single. Seminar dengan topik ini selalu penuh. Yang berbayar aja bisa full, gimana yang gratis, bisa overload pastinya. Hehehe.

Oke, saya akan mencoba sharing materi yang saya dapat waktu ikutan seminar pra nikah di aula PPSDM yang di isi oleh Ust. Hilman Rosyad, Lc dan Ery Soekresno, Psi., M.Sc. (Edu).

————————–
Resume Materi Pra-Nikah
Ahad, 25 Mei 2014 @PPSDMS

Materi 1: Mengapa & Bagaimana Saya Menikah
oleh Ust. Hilman Rosyad, Lc

Ada dua hal yang dibutuhkan untuk menikah:

1. Menikah itu tak butuh cinta, cukup syahwat (keinginan) saja.
✅ QS.Ali Imran -> 14  dijadikan indah dalam pandangan manusia apa yang diinginkan.

✅ QS.Ar-Ruum: 21-> jaminan Allah bahwa setiap manusia ada jodohnya supaya merasa cenderung.

✅ QS.An-Nisaa: 3 -> nikahilah perempuan yang kamu sukai. Jadi nikah itu harus dengan yang disukai. Harus suka sama suka.

✅ QS An-Nuur: 30 -> anjuran kepada laki-laki mukmin untuk:
a) Menjaga Pandangan -> Maksudnya adalah mengalihkan perhatian, bukan menundukkan pandangan.
b) Menjaga kemaluannya ->
   – Thaharah: istinja dgn benar, mencukur bulu kemaluan hingga bersih setiap 40 hari sekali
   – Tidak boleh diperlihatkan, baik secara jelas maupun bentuknya (jangan pakai celana yang ketat)
   – Dijaga fungsinya: fungsi ekskresi dan alat reproduksi (hanya boleh setelah menikah)

✅ QS. An-Nuur: 31 -> anjuran kepada perempuan mukmin:
a) Menjaga Pandangan -> Mengalihkan perhatian, bukan menundukkan pandangan
b) Menjaga kemaluannya ->
   – Thaharah: istinja dengan benar, mencukur bulu kemaluan hingga bersih setiap 40 hari sekali
   – Tidak boleh diperlihatkan, baik secara jelas maupun bentuknya (jangan pakai bawahan yang ketat)
   – Dijaga fungsinya: fungsi ekskresi dan alat reproduksi (hanya boleh setelah menikah)
c) Jangan menampakkan perhiasannya kecuali apa yang boleh tampak
d) Menutupkan kerudungnya sampai ke dada
e) Aturan mahram bagi perempuan

2. Menikah itu bila pantas menjadi suami/istri.
✅ QS. An-Nuur: 26 -> laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untukk laki-laki yang baik.

✅ QS. An-Nuur: 32 -> Perintah untuk menikahkan orang-orang yang sendiri.

Untuk mengukur kepantasan apakah siap menikah, maka lihatlah cermin sosial, lihat ke masyarakat, untuk menjadi istri/suami itu bagaimana. Untuk mengukur diri sendiri, lihat manajemen diri kita, kerapihan diri, keterampilan rumah tangga, manajemen keuangan, dan kebiasaan bersosialisasi.

Lalu, kadang juga ada yang mengatakan bahwa menikah itu harus dengan yang sekufu. Nah, ukuran sekufu adalah bila dikatakan pantas dan cocok dengan kita, bisa bekerja sama dengan baik. Ukuran sekufu bisa jadi subjektif, tergantung di masyarakat. Ukuran ini bisa jadi penting untuk meminimalisir konflik di awal pernikahan. Yang paling penting adalah sekufu itu harus dengan pengetahuan Allah, sesuatu hak yang bisa jadi kita tidak tahu. Poin pentingnya adalah Bagaimana menghadirkan dan menjaga sakinah.

Dalam proses menuju pernikahan, tentunya ada proses yang namnya ta’aruf. Ta’aruf itu pada intinya adalah proses bridging (menjembatani) memantapkan komitmen dan bukti kesungguhan. Selain itu ialah kecenderungan pribadi/keluarga. Pertanyaan apapun sah-sah saja ditanyakan dalam proses ta’aruf

Selain itu, salah satu persiapan pernikahan ialah pemeriksaan kesehatan terkait alat reproduksi. Jangan tabu untuk mencari tahu mengenai pengetahuan tentang hubungan seksual suami-istri. Akses informasi sudah banyak, cari buku bacaan atau referensi internet terkait itu.

——————————-
Materi 2: Komunikasi Pasutri
oleh Ery Soekresno, Psi., M.Sc. (Edu)

Karena menikah adalah ibadah, maka seharusnya pernikahan harus berperan meningkatkan kualitas keshalehan ketakwaan pasutri. Cara berpikir dan cara bertindak menjadi lebih baik, suasana emosional lebih stabil, bahkan karier dan kehidupan finansial jadi lebih meningkat.

Ciri-ciri keluarga sakinah, antara lain:
– Memiliki pasangan yang setia
– Memiliki anak yang berbakti
– Memiliki lingkungan yang sholihah
– Memiliki rezeki yang cukup

Kehidupan pernikahan, berkaitan dengan cinta dan penerimaan masing-masing terhadap pasangannya. Sebesar rasa butuh kita pada pasangan, sebesar itu pula dorongan untuk merawat hubungan dengan pasangan kita. Sikap ini bisa membuat kita seimbang melihat sisi kuat dan sisi lemah pasangan kita.

Hubungan yang produktif akan menghasilkan pertumbungan dan perkembangan. Merawat hubungan sama seperti menumbuhkan pohon. Kita harus mengembangkan pasangan kita, kadar pengetahuannya, ketrampilannya, kepribadiannya, sikapnya, dan sebisa mungkin seluruh sisi kehidupannya.

Nyatakan cinta ke pasangan dengan segala cara, baik dalam bentuk ucapan, bahasa tubuh, atau pun tindakan (non verbal). Rasulullah tidak pernah meninggalkan kata “Aku cinta padamu” kepada istri-istri beliau setiap hari.

Biasakan suami untuk menyampaikan pikirannya. Kenapa? Karena akan sulit bagi wanita untuk memahami pikiran pria. Suami harus lebih ekspresif.

Seimbang dalam memberi dan menerima. Beri yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik. Inilah prinsip untuk meraih sukses berkomunikasi.

Lima area pernikahan yang menjadi masalah:
1. Teman dan keluarga
Yang tadinya dekat dengan orang tua, sekarang harus beralih ke pasangan. Orang tua tidak bisa ikut campur dalam urusan keluarga.
Yang biasanya sering kumpul berlama-lama dengan teman, harus dikurangi. Kalau sudah nikah, juga tidak boleh curhat ke lawan jenis.

2. Keuangan
Apakah istri butuh bekerja atau resign dari pekerjaannya. Jika ingin memberi uang ke orang tua, baiknya dikomunikasikan dengan pasangan.

3. Kepuasan seksual
Sampaikan jika ada masalah.

4. Pendidikan anak
Istri bisa memberikan masukan, tetapi keputusan tetap pada suami, kemudian istri yang menjadi pelaksananya.

5. Kondisi kesehatan
Jika ada masalah dengan kesehatan, harus disampaikan.

Semoga bermanfaat.


Edited dari BC yangg saya posting.
Depok, 31 Mei 2014 : pukul 19.33 WIB

image