Review Diskusi Kekerasan Seksual Kepada Anak Kelas Bunda Sayang Depok


Indonesia sudah masuk ke dalam darurat kekerasan seksual pada anak.
Menurut komnas anak, tahun 2017 jumlah kekerasan seksual anak menempati posisi pertama dlm kategori kekerasan anak.
52 % : kekerasan seksual anak
30 % : kekerasan fisik
17% : kekerasan psikis
1 % : kekerasan bentuk lain

Di awal tahun 2018 jumlah korban anak sudah mencapai 117 anak dengan 22 pelaku.
Sementara di tahun 2017 terdapat 393 korban anak dengan pelaku 66 orang laki-laki.

Bentuk kekersan seksual pada anak Terbagi menjadi 2 :
1. Sentuhan
🚫mencium atau memeluk anak dengan cara yang tidak tepat (seksual)
🚫 memaksa, memanipulasi atau mengajak anak berhubungan seks
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak berhubungan oral seks (mulut ke penis atau
mulut vagina)
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk memegang bagian pribadi anak atau
bagian pribadi pelaku

2. Tanpan sentuhan
🚫Menggunakan bahasa seksual untuk mengejutkan anak atau membuatnya terangsang
secara seksual
🚫membuat anak mendengar atau menonton hal-hal yang berbau seksual
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk berpose sensual
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk menjadi pelaku prostitusi.

Kekerasan terhadap anak dapat terjadi akibat banyak faktor, baik yang berdiri sendiri ataupun kombinasi dari beberapa faktor, yaitu

1⃣ Pewarisan antargenerasi, yaitu saat seseorang mengalami kekerasan seksual pada masa kecilnya, cenderung akan menjadi pelaku kekerasan seksual juga.

2⃣ Stress sosial, mencakup pengangguran, penyakit, kondisi perumahan yang buruk, dan kematian anggota keluarga

3⃣ Struktur keluarga, misalnya orangtua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindak kekerasan dibandingkan keluarga utuh

Bagaimana cara untuk menanggulanginya? Caranya bisa dilakukan dengan sedini mungkin, yaitu dengan menerapkan pendidikan fitrah seksualitas sangat diperlukan sesuai dengan tahapan usia anak.

Menurut konsep Fitrah Based Education (FBE) yang digagas Ustadz Harry Santosa, mendidik fitrah seksualitas dilakukan sesuai dengan tahapan usia berikut :

1⃣ Usia 0-2 tahun : merawat kelekatanawal

🗝 Anak lelaki atau anak perempuan didekatkan kepada ibunya karena ada masa menyusui

2⃣ Usia 3-6 tahun : menguatkan konsep diri berupa identitas gender

🗝 Anak laki-laki dan anak perempuan didekatkan kepada ayah dan ibu secara bersama.

Dari sini mereka mulai memahami bahwa “saya perempuan seperti ibu” atau “saya laki-laki seperti ayah”.

Mereka juga mulai memahami adab toilet. Jika saya perempuan, maka saya cebok dan mandi bersama dengan ibu, tidak boleh dengan ayah. Begitupun sebaliknya.

Dari sini, orangtua bisa meminimalisir potensi kekerasan seksual pada anak, sebab anak sudah mulai diajarkan tentang perbedaan gender.

3⃣ Usia 7-10 tahun : menumbuhkan dan menyadarkan potensi gendernya

🗝 Anak laki-laki didekatkan kepada ayah, anak perempuan didekatkan dengan ibu

Dari konsepsi identitas gender menjadi potensi gender. Anak laki-laki perlu suplai maskulinitas yang kuat dari ayahnya, sedangkan anak perempuan perlu suplai feminitas yang kuat dari ibunya.

Pada tahap ini, anak sudah mulai tumbuh fitrah sosialnya, sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dari sinilah, anak belajar konsep interaksi dengan lawan jenis, sehingga mereka perlu didekatkan dengan orangtua yang sama gender dengannya. Perlu diperhatikan bahwa di usia inilah yang paling rawan potensi kekerasan seksual pada anak.

4⃣ Usia 11-14 tahun : mengokohkan fitrah seksualitas

🗝 Anak laki-laki didekatkan kepada ibu, anak perempuan didekatkan dengan ayah

Saatnya untuk saling memahami lawan jenis. Di usia ini, anak mulai memahami cinta mulai dari orangtuanya. Anak laki-laki belajar memahami kelembutan khas karakter perempuan. Anak perempuan mulai memahami bagaimana karakter laki-laki yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak yang berada pada periode pra aqil baligh ini bisa dilatih menjaga dirinya sendiri.

5⃣ Usia > 15 tahun : matang fitrah keayahibuan

🗝 Anak laki-laki kembali didekatkan kepada ayah, anak perempuan kembali didekatkan dengan ibu

Ditukar kembali, sebab usia ini adalah masa aqil baligh, dimana anak sudah harus bisa menerapkan konsep adab pergaulan dalam Islam. Sudah mulai memahami tentang mahrom dan aurat, sehingga harus sudah bisa menerapkan konsep menutup aurat dan menundukkan pandangan.

Selain itu, anak harus sudah bisa memahami perannya dalam rumah tangga dan berkeluarga kelak, sehingga tidak ada lagi penyimpangan fitrah seksualitas yang sungguh meresahkan.

Advertisements